Tuesday, October 2, 2018

RESENSI BUKU KUDA TERBANG MARIA PINTO

Kuda Terbang Maria Pinto karya Linda Christanty terdiri dari dua belas cerita pendek yaitu Kuda Terbang Maria Pinto, Makan Malam, Pesta Terakhir, Lubang Hitam, Balada Hari Hujan, Danau, Lelaki Beraroma kebun, Perang, Joao, Qirzar, Rumput Liar, dan Makam Keempat. Judulnya diambil dari cerpen pertama yaitu Kuda Terbang Maria Pinto. Linda Christanty menuliskan penindasan, kehampaan, kehilangan, suasana politik, perang, dan perlawanan dalam diksi yang menghanyutkan. Sekalipun penulis tidak secara eksplisit menuliskan lokasi atau latar belakang, pembaca cukup mengetahui peristiwa-peristiwa yang terkait dengan cerita tersebut. Cerita-ceritanya terkesan suram dan kelam.

Kuda Terbang Maria Pinto – Menampilkan tema-tema kemanusiaan tanpa menyerahkan sastra ke bawah telapak kaki penindasan pesan, bukan upaya gampang. Linda Christanty mampu menaklukan kemuskilan ini. Dalam sebagian besar cerpen-cerpennya, kelamin prosa dan kelamin puisi menyatu bersejiwa melahirkan pukauan mengasyikkan, mengatasi namun meninggikan ikhwal pesan pada tukikan kedalaman yang mencerahkan 

Pada cerita pendek Linda Christanty, kita mendapatkan ampuhnya suara politik justru karena yang politis itu sekadar hadir sebagai kilas balik tipis dari laku dan wicara para tokoh. Realisme Linda mencekam justru karena ia antididaktik.

Pada kisah Kuda Terbang Maria Pinto, Linda Christanty mengisahkan peristiwa terkait insiden Timor-Timur dengan menyertakan unsur magis surealis di dalamnya. Dalam Mata Malam, Linda memasukkan tokoh yang menjadi korban dari kebijakan pemerintah tahun 1965, yang membuat ribuan orang menjadi eksil. Di situ Linda menulis tentang sang ayah “yang tengah melawat ke luar negeri menjelang keributan besar”, sementara pada penjelasan berikutnya kita mendapatkan informasi bahwa “luar negri” yang dimaksud adalah Moskwa dan “keributan besar” itu adalah berita kudeta. Dengan menghubungkan hal-hal itu, dapat diketahui cerpen ini berkisah mengenai sosok sang ayah yang menjadi korban peristiwa pembasmian orang-orang komunis di awal masa Orde Baru.


Pada cerpen Pesta Terakhir bercerita tentang seorang juru catat yang hidup royal dari uang rezim tahun 1965 dengan mengkhianati para sahabatnya dalam sebuah gerakan. Disebutkan salah satu sahabatnya ialah Mursid yang tak lagi mungkin bisa memiliki pekerjaan akibat pengkhianatan oleh sahabatnya sendiri. Lubang Hitam  bercerita tentang hakikat perempuan dan  kompleksivitasnya dalam kehidupan.

No comments:

Post a Comment